Selasa, 24 Juni 2014

PROFIL HERLINA EFFENDY



          Penyanyi dangdut yang populer dengan lagu “Suling Bambu" ini, lahir tanggal 16 Januari 1951, dengan nama Herlina Effendy.

          Lagu – lagu dangdut Herlina Effendy yang hits diera tahun 1980-an, seperti: lagu Suling Bambu, lagu Muhammad Ali, lagu Maafkan Aku Tak Berdaya.

Herlina Effendy juga pernah membintangi beberapa film layar lebar, seperti: film "Goyang Dangdut", dan film "Sembilan Janda Genit".

          Sayangnya informasi tentang kehidupan Herlina Effendy saat ini, masih sangat kurang dipublikasikan melalui media.

Sabtu, 21 Juni 2014

PROFIL MUCHSIN ALATAS


          Muchsin Alatas adalah seorang penyanyi lagu dangdut, lagu pop, pencipta lagu, dan aktor film Indonesia.

Namanya mulai populer saat berduet dengan Titiek Sandhora.

          Tahun 1972 Muchsin Alatas menikah dengan Titiek Sandhora yang juga merupakan penyanyi Indonesia. Mereka berdua sering duet dihampir semua albumnya, juga pada berbagai pentas musik tanah air.

Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Bobby Sandhora, Beby, dan Bella, serta dianugerahi 3 orang cucu.

Diera tahun 1970-an duet lagu – lagu Muchsin Alatas Dan Titiek Sandhora sangat merajai pentas musik tanah air, sebut saja diantaranya: lagu Dunia Belum Kiamat, lagu Jangan Marah, lagu Halo Sayang, dan masih banyak hits lainnya.

          Dunia layar lebar juga dirambah Muchsin Alatas. Beberapa judul film yang pernah dibintanginya, seperti: Dunia Belum Kiamat (1971), Ali Topan Anak Jalanan (1977), Penasaran (1977), Kasih Sayang (1974), Permata Bunda (1974), serta beberapa judul film layar lebar lainnya.

Rabu, 18 Juni 2014

PROFIL / BIOGRAFI MUHAMMAD MASHABI


          Muhammad Mashabi atau populer dengan M. Mashabi, yang lahir dan besar di Kelurahan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang (orang Betawi menyebutnya “Tenabang”) – Jakarta.

          Tak banyak informasi lengkap yang bisa didapatkan melalui internet tentang catatan lengkap kehidupan M. Mashabi. Umumnya ia dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu melayu. Karya – karyanya sangat populer ditanah air pada masa 1950-an dan 1960-an.

M. Mashabi merupakan salah satu pencipta lagu yang merubah lirik - lirik Lagu Melayu dari bentuk Musik Orkes Melayu Deli berupa pantun, menjadi lagu – lagu berisikan prosa. Demikian juga warna dari Musik Melayu tersebut diubah dengan tempo yang labih cepat dan tidak lagi menggunakan gong. Sehingga M. Mashabi dianggap juga sebagai salah satu perintis Musik Melayu Moderen atau lasimnya disebut Dangdut

Banyak lagu – lagu ciptaan M. Mashabi kembali dirilis ulang oleh para penyanyi dangdut masa kini dengan versi dan ciri khas masing – masing, diantaranya: lagu Kecewa, lagu Renungkanlah, lagu Hilang Tak Berkesan, lagu Harapan Hampa, lagu Keluhan Anak Tiri (soundtrack film berjudul Ratapan Anak Tiri).

          M. Mashabi wafat diusia muda, yang oleh beberapa sumber mengatakan ia wafat diusia berkisar 40-an tahun dan belum pernah berumah – tangga.












Minggu, 15 Juni 2014

PROFIL / BIOGRAFI MEGGY Z


          Meggy Zakaria atau popular dengan sebutan Meggy Z, adalah seorang penyanyi dan binatang film. Lahir pada tanggal 24 Agustus 1945 di Jakarta, dan wafat 21 Oktober 2009 di Jakarta.

Meggy Z menikah dengan Zainabun, dan mereka dikaruniai 2 orang anak serta 3 orang cucu.

          Mengawali karyanya di dunia musik dangdut pada tahun 1968. Lagu pertama ciptaannya yang masuk industri rekaman berjudul “Permohonan”, dilantunkan oleh Muchsin Alatas di tahun 1969.

Ia kemudian diajak bergabung bersama Orkes Melayu Chandra Lea oleh Husen Bawfie yang juga merupakan pimpinan grup orkes tersebut. Meggy Z dipercayakan mendendangkan lagu berjudul “Seraut Wajah”, diciptakan M. Fariz untuk sebuah rekaman. Namun sayangnya lagu tersebut kurang populer.

Tahun 1987 melalui Puspita Record dirilislah sebuah album dangdut berjudul “Sepuluh Pencipta”, yang didalamnya diisi oleh vokal beberapa orang penyanyi serta hasil karya dari beberapa pencipta lagu dangdut. Di album tersebut lagu berjudul “Sakit Hati” didendangkan oleh Meggy Z, berada pada urutan terakhir side B, ternyata justru lagu tersebut yang jadi terkenal. Menyusul lagu ciptaan lainnya dalam album ini yang didendangkan oleh Yusnia berjudul “Jeritan Kasih”, juga dilantunkan Mega Mustika berjudul “Hitam Bukan Putih”, ikut jadi terkenal.

Saat rekaman lagu berjudul “Lebih Baik Sakit Gigi” ciptaan Obbie Mesakh kemudian dinyanyikan sendiri oleh Meggy Z meledak dipasaran, akhirnya ia menjadi perhatian dan mulai dikenal masyarakat luas. Kaset dari lagu ini terjual sebanyak 300 keping, suatu prestasi yang fantastis dimasa itu.

Sejak Meggy Z berkecimpung di dunia musik dangdut tanah air mulai era tahun 1960-an hingga 1980-an, barulah setelah ia merekam dan menyanyikan lagu “Lebih Baik Sakit Gigi” tersebut, namanya menjadi populer. Otomatis hal ini membuat tarif Meggy Z untuk manggung, mencipta lagu, dan rekaman, naik berkali – kali lipat.

Beberapa lagu dangdut yang dinyanyikan Meggy Z kemudian menjadi hits ditanah air, antara lain: lagu Anggur Merah, lagu Gubuk Bambu, lagu Kabut November, lagu Senyum Membawa Luka, lagu Mandul, lagu Jatuh Bangun, lagu Berakhir Pula, lagu Mata Air Cinta, lagu Lebih Baik Sakit Gigi, lagu Permisi, dan lagu Benang Biru.

Tahun 1997, Meggy Z memperoleh penghargaan sebagai Rekaman Penyanyi Dangdut Terbaik di ajang yang baru pertama kali digelar yaitu Anugrah Dangdut TPI.

Kemudian di tahun 1998, Meggy Z meraih penghargaan dalam ajang yang sama atas lagu hits-nya berjudul “Benang Biru” merupakan Lagu Dangdut Terbaik, dan ia menerima gelar sebagai Penyanyi Favorit Pemirsa.

Pada tahun 2002 masih pada ajang Anugrah Dangdut TPI, Meggy Z mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Pria Favorit melalui lagu berjudul “Permisi”.

Sebagai bintang sinetron, Meggy Z pernah berperan dalam film berjudul “Bulan Berkaca” (tayang di TPI), “Jadi Pocong” (tayang di Indosiar), dan “Dug – Dug Mong”. Sementara di layar lebar, ia pernah membintangi film berjudul “Asoy Geboy”.

          Akibat serangan jantung yang dideritanya, Meggy Z akhirnya wafat pada tanggal 21 Oktober 2009. Almarhum Meggy Z dikebumikan di TPU – Cilangkap.





Selasa, 10 Juni 2014

PROFIL / BIOGRAFI HUSEIN BAWAFIE


          Namanya adalah Husein Bawafie yang populer diera tahun 1960-an. Ia merupakan orang pertama yang mendobrak karakter Lagu Melayu Deli menjadi bentuk lagu yang bebas dari aturan pantun dan musik lebih dinamis, yang sekarang kita sebut dengan Lagu Dangdut.

          Husein Bawafie adalah seorang pencipta lagu dangdut, penyanyi, dan pemimpin sebuah Orkes Melayu.

Husein Bawafie juga merupakan pemimpin Orkes Melayu Chandralela. Ia telah menciptakan lebih dari 200 karya lagu – lagu dangdut hits dijamannya, antara lain: lagu Selayang Pandang, lagu Khayal Dan Penyair, lagu Seuntai Syair, serta banyak lagi.

          Dari tangan Husein Bawafie lahir beberapa penyanyi dangdut papan atas Indonesia, sebut saja seperti: Ellya Khadam dan Elvy Sukaesih.

Kamis, 05 Juni 2014

PROFIL / BIOGRAFI ELLYA KADHAM


          Ellya Kadham adalah seorang artis dangdut, penulis lagu dangdut, dan bintang film Indonesia. Ia lahir tanggal 25 Nopember 1928 di Jakarta, dengan nama asli Siti Alya Husnah. Ia juga punya nama lain yaitu Ellya Agus, Ellya M. Haris, namun yang lebih populer adalah Ellya Kadham.

          Ellya Kadham dibesarkan dikampung Kawikawi, Manggarai – Jakarta Selatan, dan menikah diusia yang sangat mudah serta memiliki dua orang anak, namun pernikahan pertama tersebut bubar. Ia menikah sebanyak 2 kali selama hidupnya, juga pernikahan keduanya ikut kandas lalu bercerai.

Bakat nyanyinya dipelajari secara otodidak. Kariernya mulai dirintis saat menjadi penyanyi pada Orkes Melayu Kelana Ria. Dari orkes ini banyak penulis lagu melayu terkenal diera tahun 1960-an lahir, termasuk Ellya Kadham sendiri. Saat itu Orkes Melayu Kelana Ria dipimpin oleh Adi Karso dan Munif Bahasuan.

Berawal dari Orkes Melayu Kelana Ria, sehingga dari sinilah menjadi cikal bakal munculnya genre Musik Dangdut ditanah air. Kemudian Ellya Kadham juga pernah bergabung bersama Orkes “Melayu Cahaya” Muda yang dipimpin Sarbini.

Tahun 1957, untuk pertama kalinya Ellya Kadham masuk rekaman dengan lagu andalan “Sinar Mesra”, ciptaan Husin Bawafie yang diiringi Orkes Melayu Sinar Kemala, pimpinan A. Kadir.

Salah satu lagu ciptaan Ellya Kadham yang dinyanyikan sendiri dan dirilis pada tahun 1962 lalu menjadi populer ditanaha air adalah “Boneka Dari India”. Judul lagu inilah yang membuatnya dijuluki “Si Boneka Dari India”. Ciri khas warna vokal Ellya Kadham memang melengking dan memiliki cengkok bak penyanyi India.

Ellya Kadham juga pernah membentuk grup musik melayu miliknya, antara lain: Orkes Melayu El Sitara, kemudian Orkes Melayu Anamika.

Selama hidupnya, Ellya Kadham telah merekam sekitar 400 karya lagu dangdut, walaupun beberapa dari lagu tersebut ada juga diciptakan oleh orang lain. Hampir semua lagu yang dinyanyikannya memiliki suara khas gaya India.

Konon Ellya Kadham sangat gandrung dengan lagu – lagu India, dan ia banyak belajar Bahasa India dari suaminya (Kadham) yang memang berdarah India.

Didunia perfileman tanah air, Ellya Kadham telah membintangi puluhan judul filem layar lebar, dimulai sejak akhir tahun 1950-an hingga era 1970-an.

Sampai masa tuanya Ellya Kadham masih tetap aktif menekuni dunia musik dangdut.

          Tanggal 2 Nopember 2009, Ellya Kadham menghembuskan nafas terakhir setelah lama berjuang melawan penyakit diabetes yang diderita.









Senin, 02 Juni 2014

ALAT MUSIK TABLA (KENDANG DUA)




          Kata Tabla berasal dari Bahasa Arab yaitu “Tabl”, yang diartikan sebagai drum.

          Tabla telah dikenal sejak abad ke-13 yang menurut histori diciptakan oleh seorang musisi asal India yaitu Sufi Amir Khusro.

Tabla ini sangat populer di negara India. Bahkan pada daerah tertentu di negera tersebut, Tabla dipakai dalam peribadatan, ritual agama, dan upacara pernikahan, sehingga dianggap sebagai musik klasik Hindustan.

Tabla merupakan alat musik perkusi yang terdiri dari 2 buah drum (kendang) yang masing – masing memiliki nada berbeda. Drum ukuran kecil disebut Dayan (Dahina) yang dimainkan menggunakan tangan kanan, kemudian drum ukuran besar disebut Bayan (Biah) dan dimainkan dengan tangan kiri.

Bagian atas yang ditutupi lembaran kulit disebut Membran, dan bagian bulat warna hitam pada bagian tengah kulit tersebut dinamai Kuri. Bahan yang melilit (pengikat) kulit Membran pada Tabla, disebut Puri yang juga terbuat dari kulit.

Cara memainkan Tabla memerlukan telapak tangan dan jari dengan dipukulkan pada bagian atas yang tertutup kulit. Pukulan pada Dayan dan Bayan mampu menghasilkan sekitar 20 bunyi yang berbeda. Sementara tinggi redahnya nada Tabla dilakukan pada saat memukul Bayan sambil menekan pada kulit yang dipukul.

          Umumnya di Indonesia, Tabla dipakai dalam irama musik dangdut.











Jumat, 30 Mei 2014

PROFIL / BIOGRAFI MANSYUR S (PENYANYI DANGDUT LEGENDARIS)


          Mansyur Subhawannur atau poluler dengan nama Mansyur S, lahir di Jakarta pada tanggal 30 Nopember 1948, adalah seorang penyanyi dangdut senior tanah air, pencipta lagu dangdut, dan bintang film.

         Segudang karya – karya Mansyur S, membuat namanya terus melambung dikancah musik dangdut Indonesia, diantaranya: membuat album lagu - lagu Gambus, Sunda, Pop, dan Sinetron.

Sejak tahun 1990 sampai 2000, Mansyur S selalu merilis tiga album setiap tahunnya. Pernah bermain dalam sinetron yang diproduseri A. Rafiq berjudul “Si Miskin Bercinta”, juga beberapa film layar lebar, seperti: Aku Cinta Padamu, Khana, Assoyy, dan beberapa film lain.

Album pertama yang diluncurkan oleh Mansyur S berjudul “Pesan Perpisahan” di tahun 1969. Lagunya yang pernah populer, diantaranya: Khana, Zubaedah, Rembulan, Air Tuba, Pagar Makan Tanaman, Dua – Dua, dan banyak lagi.

Perusahaan rekaman (Label Record) yang bernah bekerja sama dengan Mansyur S, adalah: Dian Record, Ramako, Digita, Irama, dan Yukawi.

Anak dari Mansyur S yang saat ini mengikuti jejaknya adalah Irvan Mansyur yang juga dikenal sebagai penyanyi dangdut Indonesia.

          Sampai saat ini Mansyur S masih sering tampil diberbagai panggung dan event musik dangdut serta masih tetap mencipta karya – karya lagu dangdut.




Selasa, 27 Mei 2014

PROFIL / BIOGRAFI A. RAFIQ


          Lahir pada tanggal 5 Maret 1948, Semarang – Jawa Tengah, dengan nama Ahmad Rafiq atau akrab dikenal dengan panggilan A. Rafiq. Dia adalah seorang penyanyi dangdut dan juga aktor tanah air yang berdarah India – Pakistan.

          Diera tahun 1970-an, A. Rafiq sangat populer dikancah musik dangdut Indonesia. Banyak lagu hitsnya yang membuat nama A. Rafiq melambung saat itu, diantaranya lagu berjudul “Pandangan Pertama” pada tahun 1978. Lagu tersebut juga diangkat kembali menjadi soundtrack film “Get Married”, dinyanyikan oleh Nirina Zubir bersama Slank.

A.Rafiq pernah belajar ilmu akting di LPKJ yang sekarang berubah nama menjadi Institut Kesenian Jakarta. Bersama PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia), A. Rafiq juga sempat mengikuti loka karya tentang membuat film yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki.

Beberapa film layar lebar pernah dibintangi A. Rafiq, antara lain: Si Gondrong (1971), Intan Berduri (1972), Pengalaman Pertama (1977), Pandangan Pertama (1978), Karena Dia (1979), Milikku (1979), dan Cantik (1980).

Sebuah serial sinetron juga pernah digarap sendiri oleh A. Rafiq dengan judul “Si Miskin Bercinta”, dibintangi oleh beberapa artis senior, seperti: Jaja Mihardja, Mansyur. S, dan Mieke Wijaya.

Darah seni A. Rafiq turun kebeberapa anak – anaknya yang saat ini juga menggeluti dunia seni, diantaranya: Fairuz A. Rafiq, Farhad A. Rafiq, , Fadia A. Rafiq, dan El Fouz A. Rafiq.

          Pada tanggal 19 Januari 2013, A. Rafiq menghembuskan nafas terakhir di R.S. Medistra – Jakarta, diusianya yang ke-64 tahun, setelah menderita serangan jantung dan diabetes.
















Minggu, 25 Mei 2014

PROFIL / BIOGRAFI ELVI SUKAESIH (RATU DANGDUT)



          Elvi Sukaesih adalah artis dangdut senior yang didulat sebagai Ratu Dangdut tanah air. Lahir pada tanggal 25 Juni 1951 di Jakarta dengan nama asli Else Sukaesih.

Nama ayahnya Mohammad Ali dan ibunya Rohayah Asiah, keduanya berasal dari Sumedang – Jawa Barat. Ayahnya seorang musisi yang biasa tampil diberbagai pesta pernikahan disekitar wilayah Jawa Barat.

Elvi Sukaesi menikah diusia 19 tahun dengan Zaidun Z. Mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu: Haedar, Fitri, Ali Zaenal Abidin, Syechans, Wirdha Sylvina, dan Dhawiya.

          Bakat nyanyi Elvi Sukaesih sudah kelihatan sejak kecil. Ia pertama kali tampil nyanyi didepan orang banyak saat masih duduk dikelas 3 SD. Saat itu tahun 1964, ia diajak ayahnya untuk ikut tampil manggung bersama dalam sebuah acara perkawinan di Sukabumi.

Setelah malang melintang manggung, pada tahun 1970 ia diajak untuk ikut nyanyi mendampingi Rhoma Irama dan Soneta Grup. Saat itulah namanya mulai dikenal oleh penggemar musik dangdut tanah air.

Tahun 1975, Elvi Sukaesih mulai bersolo karier setelah berpisah dari Soneta Grup.

Beberapa film layar lebar nasional pernah dibintangi Elvi Sukaesih, diantaranya: Karena Penasaran, Mana Tahan, Irama Cinta, dan Tuyul. 

Tahun 2002, Elvi Sukaesih menerima penghargaan Anugrah Dangdut TPI.

          Bakat seni Elvi Sukaesih turun ke anaknya, yaitu Fitria Sukaesih yang pernah menjadi penyanyi cilik diawal tahun 1980-an, juga diikuti oleh Dhawiyah sebagai artis diberbagai sinetron komedi.












Kamis, 22 Mei 2014

SEJARAH PERJALANAN MUSIK DANGDUT


          Salah satu ciri khas musik dangdut adalah menggunakan alat musik Tabla (gendang dua) yang asal muasal alat musik ini berasal dari India.

          Istilah dangdut sendiri dikutip dari pernyataan Putu Wijaya yang mengatakan bahwa lagu Boneka Dari India yang dinyanyikan Ellya Khadam adalah campuran dari lagu melayu, irama padang pasir, serta “dang ding dut” India. Hal ini dikatakan melalui Majalah Tempo, edisi 27 Mei 1972. Dari kata dang ding dut tadi sehingga tren dengan sebutan dangdut oleh masyarakat umum sampai saat ini.

Diawali dengan musik Qasidah yang dibawa masuk ke Nusantara ini oleh pedagang – pedang arab ditahun 635, lalu saudagar Gujarat pada tahun 900 – 1200, serta saudagar dari Persia tahun 1300 – 1600.

Sementara itu alat musik Gambus masuk ke Nusantara sekitar tahun 1870 oleh orang – orang Mesir dan orang Yaman, selanjutnya diawal abad ke-20 orang Indonesia keturunan Arab suka mendengarkan lagu – lagu Arab yang diiringi alat musik Gambus. Pada tahun 1930 Syech Albar yaitu ayah Ahmad Albar, membentuk sebuah Orkes Gambus di Surabaya serta merekam lagu – lagu mereka dalam bentuk piringan hitam yang sangat laris di Singapura dan Malaysia.

Tahun 1940 muncullah Musik Melayu Deli di Sumatera Utara yang diprakarsai oleh Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi yang dalam perjalannanya melahirkan berbagai grup Orkes Melayu di Jakarta.

Ditahun 1950 musik – musik Amerika Latin masuk ke Indonesia yang dibawa oleh Trio Los Panchos (Los Paraguayos), Xavier Cugat, dan Edmundo Ros, yang dalam perkembangannya dikemudian hari melahirkan diantaranya dangdut dengan sentuhan cha cha.

Pada intinya dalam sebuah Orkes Melayu (OM), alat musik yang digunakan berupa rebana, gambus, gitar akustik, akordeon, suling, serta gong, yang kemudian berkembang dengan memadukan irama dari lagu – lagu India. Hal ini dapat dirasakan dalam lagu – lagu dijaman Ellya Khadam (lagu Boneka Dari India), Said Effendi (lagu Seroja), hingga M. Mashabi (lagu Ratapan Anak Tiri).

Diera tahun 1970-an dalam pemerintahan Orde Baru, Orkes Melayu atau Musik Dangdut kembali mengalami perubahan yang sangat besar. Seiring dengan masuknya Budaya Barat maka musik dangdut ikut kena imbasnya, dimana pada saat itu grup – grup Orkes Melayu bermunculan dengan menggunakan alat musik produk barat, yaitu: gitar listrik, keyboard, drum, mandolin, tamborin, terompet, dan sebagainya, sehingga musik dangdut bernuansa kontemporer karena dipadukan dengan alat musik seruling, tabla (gendang dua).

Gebrakan perubahan ini dipelopori oleh Rhoma Irama beserta grup Soneta-nya, bahkan boomingnya musik rock yang masuk di Indonesia masa itu mempengaruhi sound gitar Rhoma Irama hingga terdengar distorsi, serta diantara alunan vokalnya kadang terselip lengkingan ala vokalis rock. Hal serupa ini dapat kita dengarkan dari beberapa lagu Rhoma Irama yang dipengaruhi oleh lagu – lagu milik grup rock Deep Purple dari Inggris.

Kemudian bermunculan juga beberapa penyanyi melayu / dangdut lainnya seperti A. Rafiq, Mansyur. S, Muchsin Alatas, dan lainnya. Pengaruh musik melayu di era tahun 1970-an pun semakin merebak hingga beberapa grup band pop yang sedang naik daun saat itu, diantaranya: Koes Plus, The Mercys, Panbers, The Loyd, ikut membuat album musik melayu yang juga meledak dipasaran.

          Dalam perkembangannya di masa moderen ini, musik dangdut telah banyak mengalami perpaduan dari jenis musik lain, dimana beberapa musisi dangdut sangat kreatif meramu musiknya dengan irama pop, cha cha, reggae, rock, sampai house music.













Rabu, 14 Mei 2014

PROFIL / BIOGRAFI RHOMA IRAMA ( RAJA DANGDUT )


          Lahir tanggal 11 Desember 1946 di Tasikmalaya yang memilik nama lengkap Raden Oma Irama namun dikenal dengan nama Oma Irama. Setelah pulang melakukan ibadah haji dari Tanah Suci Mekah, ia merubah nama menjadi Rhoma Irama (singkatan Raden Haji Oma Irama) yang akrab dipanggil Bang Haji.

          Tahun 1972 Rhoma Irama menikah dengan Veronica (isteri pertama) yang diceraikannya pada tahun 1985. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Debby Verama Sari, Fikri Rhoma Irama, dan Romy.

Namun sebelum menceraikan isteri pertamnya, ternyata Rhoma Irama telah menikah diam – diam di tahun 1984 dengan seorang artis film layar lebar tanah air saat itu, yakni Rica Rachim. Pernikahan ini tidak memberikan keturunan, sehingga mereka mengambil seorang anak angkat yaitu Ridho Irama pada tanggal 14 Januari 1989.

Kemudian tanggal 6 Maret 2003, Rhoma Irama menikah siri dengan seorang artis sinetron yang namanya Angel Legal lalu diceraikannya pada tanggal 2 Agustus 2005.

Rhoma Irama juga pernah mengenyam pendidikan bangku kuliah. Ia kuliah di Universitas 17 Agustus Jakarta, namun tidak selesai. Februari 2005, ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari American University Of Hawaii. Namun beredar informasi bahwa universitas tersebut tidak punya murid / mahasiswa sama sekali, serta tidak pernah memiliki ijin akreditasi dari pemerintah Hawaii. Universitas ini hanya memberi gelar kepada warga negara non Amerika.

Rhoma Irama adalah seorang penyanyi dangdut legendaris tanah air yang mendapat gelar Raja Dangdut. Karirnya dimusik dangdut dirintis tahun 1963 saat ia mulai bergabung bersama band Gayhan, lalu ikut lagi dengan Orkes Chandra Leka, serta terakhir Rhoma Irama membentuk band sendiri yang namanya Soneta.

Prestasi yang diraihnya antara lain berupa penerimaan Golden Record sebanyak 11 kali dari hasil penjualan albumnya.

Diperkirakan penggemar Rhoma Irama ditanah air saat masa jayanya dahulu adalah sebanyak 10 % penduduk Indonesia, belum termasuk fans dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura. Kabarnya setiap kali Rhoma Irama dan Soneta melakukan pentas di masing – masing negara tersebut, jumlah penonton yang datang membludak dan berdesak – desakan, sama halnya saat mereka pentas ditanah air.

Diera tahun 80-an, Rhoma Irama juga sukses di layar lebar. Semua film yang dibintanginya selalu laku dan membuat penonton berjejal dibioskop – bioskop tanah air.

Total karya Rhoma Irama ada sekitar 685 single / lagu dan 10 judul film layar lebar.

          Sejak jaman Orde Baru, Rhoma Irama sudah aktif dalam dunia politik dan menjadi maskot PPP. Tahun 1993, ia terpilih menjadi anggota DPR mewakili utusan golongan untuk seniman dan artis.

Tahun 2006 saat dengar pendapat antara anggota dewan dengan para artis Indonesia untuk membahas RUU Anti Pornografi, Rhoma Irama menentang aksi panggung penyanyi dangdut Inul Daratista yang dianggapnya terlalu erotis.

Ditahun 2012 ia mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia atas permintaan msyarakat dan beberapa tokoh.