Kamis, 22 Mei 2014

SEJARAH PERJALANAN MUSIK DANGDUT


          Salah satu ciri khas musik dangdut adalah menggunakan alat musik Tabla (gendang dua) yang asal muasal alat musik ini berasal dari India.

          Istilah dangdut sendiri dikutip dari pernyataan Putu Wijaya yang mengatakan bahwa lagu Boneka Dari India yang dinyanyikan Ellya Khadam adalah campuran dari lagu melayu, irama padang pasir, serta “dang ding dut” India. Hal ini dikatakan melalui Majalah Tempo, edisi 27 Mei 1972. Dari kata dang ding dut tadi sehingga tren dengan sebutan dangdut oleh masyarakat umum sampai saat ini.

Diawali dengan musik Qasidah yang dibawa masuk ke Nusantara ini oleh pedagang – pedang arab ditahun 635, lalu saudagar Gujarat pada tahun 900 – 1200, serta saudagar dari Persia tahun 1300 – 1600.

Sementara itu alat musik Gambus masuk ke Nusantara sekitar tahun 1870 oleh orang – orang Mesir dan orang Yaman, selanjutnya diawal abad ke-20 orang Indonesia keturunan Arab suka mendengarkan lagu – lagu Arab yang diiringi alat musik Gambus. Pada tahun 1930 Syech Albar yaitu ayah Ahmad Albar, membentuk sebuah Orkes Gambus di Surabaya serta merekam lagu – lagu mereka dalam bentuk piringan hitam yang sangat laris di Singapura dan Malaysia.

Tahun 1940 muncullah Musik Melayu Deli di Sumatera Utara yang diprakarsai oleh Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi yang dalam perjalannanya melahirkan berbagai grup Orkes Melayu di Jakarta.

Ditahun 1950 musik – musik Amerika Latin masuk ke Indonesia yang dibawa oleh Trio Los Panchos (Los Paraguayos), Xavier Cugat, dan Edmundo Ros, yang dalam perkembangannya dikemudian hari melahirkan diantaranya dangdut dengan sentuhan cha cha.

Pada intinya dalam sebuah Orkes Melayu (OM), alat musik yang digunakan berupa rebana, gambus, gitar akustik, akordeon, suling, serta gong, yang kemudian berkembang dengan memadukan irama dari lagu – lagu India. Hal ini dapat dirasakan dalam lagu – lagu dijaman Ellya Khadam (lagu Boneka Dari India), Said Effendi (lagu Seroja), hingga M. Mashabi (lagu Ratapan Anak Tiri).

Diera tahun 1970-an dalam pemerintahan Orde Baru, Orkes Melayu atau Musik Dangdut kembali mengalami perubahan yang sangat besar. Seiring dengan masuknya Budaya Barat maka musik dangdut ikut kena imbasnya, dimana pada saat itu grup – grup Orkes Melayu bermunculan dengan menggunakan alat musik produk barat, yaitu: gitar listrik, keyboard, drum, mandolin, tamborin, terompet, dan sebagainya, sehingga musik dangdut bernuansa kontemporer karena dipadukan dengan alat musik seruling, tabla (gendang dua).

Gebrakan perubahan ini dipelopori oleh Rhoma Irama beserta grup Soneta-nya, bahkan boomingnya musik rock yang masuk di Indonesia masa itu mempengaruhi sound gitar Rhoma Irama hingga terdengar distorsi, serta diantara alunan vokalnya kadang terselip lengkingan ala vokalis rock. Hal serupa ini dapat kita dengarkan dari beberapa lagu Rhoma Irama yang dipengaruhi oleh lagu – lagu milik grup rock Deep Purple dari Inggris.

Kemudian bermunculan juga beberapa penyanyi melayu / dangdut lainnya seperti A. Rafiq, Mansyur. S, Muchsin Alatas, dan lainnya. Pengaruh musik melayu di era tahun 1970-an pun semakin merebak hingga beberapa grup band pop yang sedang naik daun saat itu, diantaranya: Koes Plus, The Mercys, Panbers, The Loyd, ikut membuat album musik melayu yang juga meledak dipasaran.

          Dalam perkembangannya di masa moderen ini, musik dangdut telah banyak mengalami perpaduan dari jenis musik lain, dimana beberapa musisi dangdut sangat kreatif meramu musiknya dengan irama pop, cha cha, reggae, rock, sampai house music.